Salah


Indah, satu kata yang berputar-putar di benakku. Mata berwarna biru sedamai air laut. Hidung mancung dan bibir tipis menambah kesan manis saat tersenyum. Dan yang membuatku tak lekas mengalihkan perhatian terhadapnya adalah suara merdu, yang senantiasa terdengar di telingaku.

Lelaki itu, memegang gitar di pangkuannya. Tatapannya begitu teduh, memancarkan sebuah ketulusan. Meski tak dapat ku pungkiri, terdapat kegelisahan serta kegundahan di sana.

Aku hanya tersenyum saat ia menatapku. Lalu balas menatapnya, seolah menyalurkan kekuatan yang dapat ku pastikan, beberapa menit lagi kepercayaan dirinya hilang.

Semua berjalan sesuai rencana, ia bernyanyi dengan sangat baik. Harusnya aku bahagia bukan? Tak sia-sia selama beberapa pekan aku mengajarkannya bermain gitar. Namun, hati dan otakku seolah berhianat. Aku merasa menyesal telah menyetujui permintaan untuk mengajarinya.

Lagunya terdengar sangat romantis, membuatku ingin berteriak menghentikannya. Aku merasakan itu untuk kesekian kalinya. Ahh tidak, bukan... bahkan ini lebih dari yang aku bayangkan sebelumnya. Jika dulu aku sempat merencanakan untuk kabur, maka sekarang aku merutuki pemikiran bodoh itu. Bahkan untuk sekedar melangkah pun tak mampu, terlalu perih, sakit, teramat sakit. Ingin sekali ku pukuli dada ini yang terasa menyesakan, membuatku mati rasa.

Tentu aku tahu jawabannya. Rasa sakit itu berasal dari satu hal yang terpendam sejak lama, dan ini lah puncaknya. Aku tersadar, ia telah menyelsaikan lagunya. Dengan rasa percaya diri yang tersisa ia terus melangkah, bersama seuntai senyuman yang tak lekas hilang dari bibirnya. Ia mendekat, semakin dekat.

"Berhenti, aku mohon!" teriakku membatin.

Kini ia berjongkok, samar-samar dapat ku dengar helaan nafas gusarnya. Tangannya yang bergetar mengenggam setangkai mawar merah. Tentu saja aku tahu ia tengah gugup, apalah artinya kedekatan kita selama ini, jika hal kecil seperti itu saja aku tak tahu.

"Rania Oktavia, umm... sebenarnya, gue udah lama suka sama elo. Be my girl?" ujarnya lantang.

Aku mencoba membutakan pengelihatan dan menulikan pendengaran. Tak ingin tahu kelanjutannya. Aku tak peduli apa yang terjadi selajutnya. Tetapi tetap saja...

"Terima! Terima!"

Teriakan itu membuatku takut menghadapi kenyataan. Karena kemungkinan hari esok takan pernah lagi sama dengan sebelumnya.

"Terima! Terima!"

Hanya dengan sebuah anggukan singkat, semuanya benar-benar berubah.

"Huuuuu."

Hanya anggukan, dan pertahananku runtuh.
Jangan tanya apa yang saat ini aku rasakan, karena sakit saja tak cukup untuk sekedar di deskripsikan.

Ku dapati ia menggenggam erat tangan itu. Tangan dari seorang gadis manis nan mungil yang sejak tadi berdiri tepat di sebelah kananku. Ya, namanya Rania Oktavia. Gadis yang menurutku serba biasa. Namun, mampu meluluhkan hati Reno yang beku.

Reno tersenyum, menatap ke arahku. Mulutnya bergerak tanpa suara, tapi aku tahu apa maksud ucapannya. Ku anggukan kepalaku yang semakin terasa berat. Kemudian ia dan gadis itu berjalan menjauh, masih dengan tangan saling menggenggam.

"Masih mau bertahan?" ujar seseorang yang baru ku sadari bahwa sejak tadi ia yang memegang bahuku, menahannya agar tak roboh. Ku tatap seseorang yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingku.

"Apakah sekarang aku masih punya alasan?" tanyaku menatapnya balik. Ia hanya tersenyum simpul mengusap kepalaku pelan, sedetik kemudian ku rasakan genggaman hangat menelungkupi tangan kecilku yang sudah mulai mendingin.

"Lupakan, lupakan dia!" ucapanya diiringi tatapan mengitimidasi.

Kalau sudah begini, apa yang harus aku lakukan? Harusnya dari awal aku menghentikan semua ini. Perasaan tak salah namun selalu di anggap tak wajar oleh kebanyakan orang.

Aku tak salah, perasaan ini tak salah, cinta ini benar adanya. Hanya saja, keadaan membuatnya menjadi serba salah.

"Tidak mungkin aku mencintai adik ku sendiri."
"Kenapa?"

"Karena kita memang saudara, Vi. kita sepupuan. Aku gak pernah ngebayangin kalau kita pacaran. Hah, lucu sekali."

"Kalau kita gak sepupuan? Lagian kita bukan saudara kandung."

"Mungkin aku bakal pertimbangin, tapi tetap saja rasanya itu gak wajar."

Andai saja, tak ada kata ikatan keluarga diantara kita. Andai saja tak ada kata saudara, adik-kakak diantara kita. Namun berandai saja takan pernah cukup membenarkan keadaan menyakitkan ini. Karena nyatanya, Reno memang tak pernah melihatku lebih dari seorang adik kecilnya.

Kenapa harus tante Sita yang menjadi mamanya Reno? Kenapa pula mama harus memiliki kakak yang mempunyai anak bernama Reno? Kenapa hidup sangat tak adil?

Mungkin waktunya memang sudah tiba, di mana seharusnya aku mengambil keputusan ini sejak lama. Aku akan memaksakan diri untuk berhenti. Tak masalah lagi sakit yang nanti kudapat, tak peduli lagi seberapa banyak perih terasa. Toh, pada waktunya luka itu akan sembuh, meski aku ragu jika lukanya tak berbekas.
Karena kenyataannya aku mencintai dia. Moreno Adiyasha, sepupuku sendiri.
End

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Novel 'Dia, Tanpa Aku'

Presepsi